Assalamualaikum hari ke 19
AGAMA DAN kesehatan
Sebagai mana halnya konsep agama memiliki dua makna yaitu statik dan dinamik, dimana makna statik agama dipandang sebagai suatu sistem sosial yang mengatur kehidupan para pemeluk agama tersebut. Sedangkan makna dinamik pengalaman keagamaan tidak selalu terkait secara formal, konsep dinamis ini disebut juga dengan istilah reguilitas atau spritualitas.
Agama dan kesehetana memiliki beberapa pola hubungan, yaitu:
Saling berlawanan
Agama dan kesehatan berpotensi untuk mengalami perbedaan dimana, pada pandangan agama tertentu cara pengobatan yang dilakukan oleh pihak medis melanggar hukum agama, minsyalnya islam beranggapan bahwa terapi dengan urine merupakan seuatu yang najis tapi dalam dunia medis itu tidak apa-apa.
Saling mendukung
Agama dan ilmu pengetahuan juga berpotensi saling medukung, dimana sebagai contoh pada saat calon jemaah haji akan mendapatkan general check-up supaya perjalanan hajinya dapat berjalan lancar.
Saling melengkapi
Yang dimaksud disini ialah adanya peranan agama sebagai pengkoreksi atas praktik kesehatan atau sebaliknya, sebagai contoh dalam islam kalau berbuka puasa dianjurkan berbuka dengan memakan makanan yang manis-manis, tetapi dalam dunia kesehatan itu bukan sebuah keharusan hanya sebagai pemulihan kondisi tubuh sehingga tidak kaget ketika menerima asupan yang lebih banyak.
Saling terpisah dan bergerak dalam kewenangannya masing-masing
Agama dan ilmu kesehatan juga berpontesi untuk jalan sendiri-sendiri karena ketidak adanya kesesuaian antara konsep agama dan konsep ilmu kesehatan.
Aspek Agama dalam kesehatan
Dalam dunia kesehatan aspek agama hendaknya tidak hanya untuk diakui haknya oleh tenaga medis, namun memiliki peranan dan fungsi untuk mendukung proses penyembuhan. Benson mengatakan, ”jika anda percaya dan yakin pada satu dokter saja, maka pengobatan akan lebih efektif ditanganinya”. Tetapi dia juga menegaskan bahwa ada faith factor yang dapat menunjang dalam pratik penyembuhan atau perawatan kesehatan. Salah satu contoh yang di kemukakanya ialah pentingna memberikan sugeti pada diri sendiri, dengan membacakan mantra yang tidak lebih dari 7 kata.
Aspek kesehatan dalam agama
Dalam mengkaji aspek-aspek kesehatan dalam agama, ada dua hal yang perlu diperhatiakan. Pertama, ajaran agam secara normative (das sein). Kedua, ada perilaku keagamaan yang riil atau tampak dan dilakukan oleh masyarakat.
Kemudian dalam pemahaman yang ekstrem tekstual ada yang berpendapat bahwa masalah kesehatan berbeda dengan masalah agama. Dan masalah keagamaan tidak perlu dikaji dari kesehatan.
Fungsi agama bagi kesehatan
Sumber Moral
Agama memiliki fungsi yang strategis untuk menjadi sumber kekuatan moral baik bagi pasien dalam proses penyembuhan maupun tenaga kesehatan. Bagi orang beragama, mereka memegang keyakinan bahwa perlakuan Tuhan sesuai dengan persangkaan manusia kepada-Nya.
Sumber Keilmuan
Sejalan dengan agama sebagai sumber moral, agam pun dapat berperan sebagai sumber keilmuan bagi bidang kesehatan. Konseptualitasi dan pengembangan ilmu kesehatan atau kedokteran yang bersumber dari agama, dapat kita sebut kesehatan profetik, dalam konteks islam disebut dengan ilmu kesehatan islami atau kedokteran islami.
Agama pun menjadi sumber informasi untuk pengembangan ilmu kesehatan gizi (nutrisi) atau farmakoterapi herbal. Dalam islam dinyatakan bahwa makan itu harus halal dan thayyib. Halaln artinya sehat secara psikis dan sosial (misalnya bukan hasil mencuri), dan thayyib artinya sehat secara gizi.
Praktik-praktik keagamaan menjadi bagian dari sumber ilmu dalam mengembangkan terapi kesehatan. Tidak bisa dipungkiri, yoga, meditasi, dan tenaga prana adalah beberapa ilmu agama yang dikonversikan menjadi bagian dari terapi kesehatan.
Amal agama sebagai amal kesehatan
Seiring dengan pemikiran yang dikemukakan sebelumnya, bahwa pola pikir yang dianut dalam wacana ini adalah all for health, yaitu sebuah pemikiran bahwa berbagai hal yang dilakukan individu mulai dari bangun tidur, mandi pagi, makan, kerja, rehat sore hari, sampai tidur lagi, bahkan selama tidur pun memiliki implikasi dan kontribusi nyata terhadap kesehatan.
Diskusi Wacana Agama Dan Kesehatan
Kemiskinan dan kesehatan jiwa
Awal tahun 2006, masyarakat indonesia di hebohkan dengan munculnya dugaan dan pembuktian penggunaan boraks dan formalin untuk makanan. Bakso salah satu mode makan rakyat yang populer dikalangan masyrakat, diduga ada yang menggunakan boraks, sementara tahun dan ikan diduga menggunakan formalin yaitu sebuah zat kimiawi yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
Dengan mencermati gejala sosial tersebut, bila kita lakukan telaah kearah yang lebih mendalam dapat ditemukan ada beberapa masalah sosial yang mungkin sedang terjadi di masyarakat.
Pertama, masyarakat kita- khususnya para pelaku- mengalami atau menjali mal-adjusment. Artinya, para pelaku melakukan tindakan salah suai (mal-adjustment) terhadap berbagai tekanan hidup yang sedang terjadi saat ini. Ketidakmampuan masyarakat dalam mencari dan menemukan cara pemecahan masalah merupakan penyebab dasar adanya kesalahan arah masyarakat dalam menyesuaikan hidup.
Kedua, muncul dan berkembangnya praktik bisnis yang kurang terpuji ini merupakan sebuah indikasi rendahnya need for health masyarakat. Kebutuhan dan motivasi hidup sehat ternyata merupakan sebuah barang langka di masyarakat kita. Masyarakat kita, baik di tingkat elit maupun masyarakat awam sangat kecil sekali mampu menunjukkan motivasi untuk hidup sehat.
Untuk sekedar contoh, bahwa masyarakat kita sangat rendah dalam motivasi kesehatanyya, yaitu 1. Budaya merokok 2. Buang sampah sembarangan 3. Narkoba 4. Makan makanan sembarangan. Contoh-contoh tersebut merupakan bagian kecil dari rendahnya budaya hidup sehat atau perilaku sehat dari masyarakat kita.
Ketiga, hal yang paling mengerikan dari kedua hal tersebut, yaitu hilangnya rasa tanggung jawab seorang pedagang terhadap konsumen. Indonesia sudah memiliki UU perlindungan konsumen, UU pangan, namun ternyata para penjual tersebut belum memiliki kesadaran dan kemauan untuk menunjukan itikad baiknya dalam melindungi konsumen.
Keenmpat, tingginya ego-kapitalisme masyarakat yang tidak diiringi rasa kkeadilan dan tanggung jawab sosial.
Publik menyadari dan mengakui bahwa kondisi morat-maritnya ekonomi negara ini begitu sangat mendalam dan sangat perih dirasakan. Semua pihak dan khususnya masyarakat lapisan bawah sangat merasakan penderitaan ini. Meskipun demikian, akankah kondisi seperti ini dilengkapi pula dengan ego-kapitalisme kita yang melupakan tanggung jawab sosial? Akankah kita bernafsu untuk mendapatkan kekayaan dan keuntungan sebesar mungkin dengan membiarkan konsumen mendapatkan penderitaan? Akankah kita tertawa diatas penderitaan orang lain?
Kalangan BPOM, penegak hukum, atau pemerintah, perlu menunjukka sikap tegas dan kerja kerasnya dalam merapikan kembali bisnis masyrakat, baik yang berskala home-industry maupun skala kecil-menengah. Tindakan ini penting khususnya untuk melakukan pengawasan terhadap munculnya praktik bisnis yang ilegal. Diluar hal tersebut, sudah pasti, andil partisipasi masyarakat dalam mengontrol praktik-praktik bisnis yang tidak sejalan dengan norma, hukum, dan keputatan.
Kkl Dr2020
IAIN padang sidimpuan

Makasih infonya 😊
BalasHapusInformasi yang bagus
BalasHapusLanjut kan
Semangat kakak² :)))
BalasHapus